Categories
Social Media Marketing

Algoritma Baru Instagram 2020

Saya mungkin termasuk yang terlambat mengikuti perkembangan media sosial yang satu ini.

Sejak 2 atau 3 tahun lalu, sebenarnya saya sudah ingin menggunakan Instagram untuk menambah opsi marketing channel saya.

Namun belum terealisasi karena bagi saya cukup sulit mendapatkan feel saat “main” Instagram. Maklum, saya masih generasi jaman old.

Tapi memang data tidak bisa berbohong. Jumlah pengguna Instagram semakin banyak setiap hari. Rasanya saya terlalu bodoh kalau menafikan sosmed milik Facebook ini.

Jumlah Pengguna Instagram di Seluruh Dunia
Grafik Pertumbuhan Jumlah Pengguna Instagram Tahun 2013 -2018 (statista.com)

Lihat saja, 2 tahun yang lalu ditahun 2018, jumlah pengguna instagram sudah 1 miliar orang lebih.

Itu Gile.

Artinya, mau tidak mau, kita harus ikut bermain di kolam ini. Kolam yang sudah banyak Hiu dan Paus, tapi masih cukup ikan kecil untuk kita pancing.

Dan itu membawa saya ke poin selanjutnya.

Apa saja poin penting yang harus diperhatikan di Instagram?

Kalau jawaban mudahnya, ya cuma satu. Followers. Right?

Tapi ternyata bukan cuma itu.

Kita harus memahami Instagram dari kacamata Facebook sebagai Induknya. Majikannya.

Yang kita harus pahami, Facebook sebenarnya bukanlah sebuah media sosial. Facebook adalah agensi periklanan raksasa.

Kalau agensi iklan biasa menyewakan billboard untuk dipasangi iklan, maka Facebook menyewakan timeline untuk dipasangi iklan oleh para advertiser.

Dan Instagram hanyalah menjalankan template yang sama seperti Facebook. Mereka juga menyewakan space di timeline untuk pengiklan.

Lantas, apa artinya itu?

Artinya, Instagram menginginkan orang semakin betah berlama-lama memelototi aplikasinya. Semakin lama, semakin bagus.

Supaya peluang orang melihat iklan yang mereka tampilkan semakin besar.

Dan itu hanya bisa didapat kalau Instagram tidak membosankan.

Mari kita pahami lagi itu baik-baik. Resapi dengan seksama.

Selama konten yang kita bagikan di Instagram adalah konten yang tidak membosankan, maka hampir bisa dipastikan, konten kita akan dipilih oleh Instagram untuk disebarkan ke lebih banyak pengguna.

Tapi membosankan atau tidak itu kan bukan sesuatu yang kuantitatif? Bagaimana cara Instagram mengukurnya?

Disinilah muncul istilah Engagement Rate. Yang mengukur tingkat interaksi pengguna didalam Instagram.

Yang kemudian memunculkan pertanyaan:

Bagaimana Cara Meningkatkan Engagement Rate di Instagram?

Seperti layaknya resep rahasia KFC, atau formula andalan Coca-cola, Engagement Rate ini adalah rahasia dapurnya Instagram dan Facebook.

Tidak ada yang mengetahui secara pasti berapa sendok garam yang dibutuhkan untuk menggoreng sepotong sayap ayam KFC, kecuali si pemilik resep dan kokinya.

Begitu juga Engagement Rate.

Kalau saya biasanya cukup menggunakan layanan engagement calculator gratis seperti Phlanx untuk mengetahui engagement rate saya.

Tapi, ada bocoran dari Instagram Product Lead, mas Julian Gutman, mengenai apa saja yang mereka perhitungkan dalam penentuan konten yang mereka sukai.

Menurut Instagram, 3 hal ini yang mereka perhitungkan dalam algoritma Instagram.

Ada 3 hal yang menurut mas Julian memiliki bobot paling besar, yaitu:

  • Interest
  • Timeliness
  • Relationship.

Ayo kita bahas satu per satu.

Interest

Bisa dibilang ini faktor yang paling mudah dilihat.

Jumlah likes, comment, share, post save. Itu semua berpengaruh dalam penentuan popularitas postingan instagram anda.

Bagaimana meningkatkannya?

Ada satu trik menarik yang saya dapatkan dari salah satu kawan, yaitu:

Jangan hanya gunakan satu image saja. Postinglah beberapa image sekaligus dalam bentuk carousel.

Mengapa demikian? Karena dengan format carousel, pemirsa postingan anda akan “dipaksa” berinteraksi lebih lama dengan postingan tersebut.

Apalagi kalau fotonya berseri (saling berkaitan satu sama lain).

Si pemirsa harus menggeser-geser foto di carousel kan? Itu ditangkap sebagai sinyal ketertarikan oleh Instagram.

Sehingga post anda akan dianggap mengundang engagement.

Timeliness

Jelas, post yang lebih baru akan mendapatkan nilai tambah dimata pengguna.

Tapi tentu ini bisa juga diartikan, Instagram lebih menyukai akun yang rutin memproduksi konten.

Ingat, semakin banyak konten, semakin menariklah Instagram dimata pengguna.

Best practice yang saya temukan adalah:

Frekuensi posting terbaik adalah 1-2 kali sehari, 5 hari dalam seminggu.

Tapi posting terlalu banyak dalam satu hari juga tidak akan menguntungkan akun anda.

Sebaliknya, posting terlalu jarang bisa membuat akun anda mati suri.

Relationship

Yang terakhir ini kadang suka terlewat dalam rencana pengembangan akun kita.

Kita hanya memikirkan tentang akun yang kita punya.

Padahal hubungan dengan follower juga tidak kalah penting. Bahkan sangat penting.

Sempatkanlah berinteraksi dengan komentar-komentar yang ada di postingan anda.

Sesekali kirimlah pesan terimakasih kepada follower yang rajin share atau berkomentar. (Ya, DM juga terhitung sebagai relationship).

Bangunlah hubungan yang genuine dengan pengikut anda. Hubungan yang tulus apa adanya.

Ingatlah, bahwa mereka bukan hanya sekumpulan angka di dashboard.

Jika anda tidak ingin difollow oleh (sepertinya) bot, maka anda harus mulai menganggap follower sebagai manusia.

Itu juga penjelasannya, kenapa membeli follower adalah keputusan yang salah.

Kalau follower hasil beli itu ternyata banyak yang palsu alias bot, maka mereka tidak akan berinteraksi dengan postingan anda.

Tanpa interaksi, postingan anda akan dianggap sampah, dan akhirnya ditenggelamkan ke dasar timeline.

See? Beli follower bukannya untung, malah buntung!

Kesimpulan

That’s it!

Tidak ada algoritma yang njelimet sebenarnya.

Apapun sosial medianya, entah itu Facebook, Instagram, Youtube, bahkan TikTok sekalipun.

Kalau anda mampu memproduksi konten yang engaging, yang membuat pemirsa betah berlama-lama memelototi layar smartphone, maka bisa dipastikan secara natural anda akan sukses menjaring follower.

Itulah algoritma instagram yang sesungguhnya. Yang tidak akan berubah. Tidak dalam waktu dekat.