Ketika Harga Nasi Pecel Naik (lagi) – Sebuah Renungan (sok) Ekonomi

“Sekarang harganya saya naikin jadi 11.000, Pak. Soalnya beras naik, kacang naik, semua pada naik..” Itu pernyataan kenaikan harga yang disampaikan oleh si ibu tukang pecel, lengkap dengan argumen yang melatar belakangi kenaikan harga tersebut.

Saya pun maklum, dan menarik lagi selembar uang kertas dua ribuan dari kantong celana, supaya dua bungkus pecel yang sudah saya pegang bisa saya bawa pulang.

Itu berarti selama saya tinggal di Bontang dari tahun 2009 sudah 4 kali si ibu tukang pecel menaikkan harga. Dari 7000 perak ke 8000, 9000, 10.000 dan sekarang sebelas ribu. Itu berarti kenaikan sebesar 57% dalam jangka waktu 3 tahun. Atau kalau di rata-rata 19% per tahun. Padahal menurut data inflasi yang dirilis oleh Bank Indonesia, inflasi rata-rata selama 3 tahun terakhir tidak pernah sampai 6%.

Nah loh, kalo melihat data itu berarti ada dua kemungkinan:

Yang pertama, si ibu sudah berbohong. Lha wong pemerintah aja bilang inflasi Cuma 5 persen kok berani-beraninya naikin harga sampai 19 persen. Mau cepat kaya bu?

Atau yang kedua, pemerintah lah yang sudah berbohong. Karena si ibu pecel ternyata nggak sendirian. Penjual beras, pedagang sayur, tukang pempek semua kompak menaikkan harga. Artinya data inflasi versi si ibu pecel memang benar-benar nyata.

Saya lalu mengingat-ingat, selama 3 tahun ini gaji saya sudah naik berapa banyak? Ternyata hanya sekitar 8-12% saja per tahun. Perusahaan tempat saya bekerja dengan bangganya mengatakan bahwa kenaikan gaji kami selalu diatas inflasi. Tapi itu inflasi versi pemerintah, bukan inflasi para pedagang bayam, inflasi tukang ikan, inflasi mbok gado-gado.. (Tapi masih bersyukur lho, dapat gaji yang naik setiap tahun, banyak yang gajinya nggak naik-naik, contohnya Pak eS Be Ye..)

Fakta ini harus menyadarkan kita, bahwa sekarang bukan jamannya lagi menggantungkan harapan pada pemerintah. Berharap supaya pak eS Be Ye dengan segala kemuliaan yang dimilikinya bisa membuat negeri kita lebih makmur dalam sekejap. Atau menggantungkan harapan pada orang yang mempekerjakan kita, berharap supaya gaji kita dinaikin setiap bulan (nggak mungkiiiinnnn…).

Lantas, solusinya terhadap kenaikan harga-harga apa? Nah, saya bukan konsultan atau penasehat keuangan, bukan porsi saya untuk menjawab, lagipula sekarang jam makan siang, loading otak saya agak pelan kalo jam-jam segini, hehe..

Nggantung banget ya postingnya? Nggak apa-apa lah. Namanya juga renungan bebas. Kalo anda punya ide atawa solusi, silahken dikomen aja. Selamat menikmati makan siang anda. Wassalam.

4 thoughts on “Ketika Harga Nasi Pecel Naik (lagi) – Sebuah Renungan (sok) Ekonomi”

  1. Salam pecel Mas Ari

    Ngomong-ngomong harga, di Kalimantan harga makanannya ajib-ajib, mungkin harga makanan disana di sandingkannya dengan harga hasil tambang kali ya, hehehehe

    Salam
    Ayah Nara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *